Lebih Baik Berutang?

Berdoa bersama saat memulai pertemuan di Markas KKI Ende, Minggu, 12 Agustus 2018.

Oleh Avent Saur

Tak diduga bahwa organisasi relawan kemanusiaan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang dengan Gangguan Jiwa yang berawal di Ende 2016 lalu telah menyebar ke sebagian besar wilayah Provinsi NTT dan di pelbagai wilayah di Nusantara serta negeri luar.

Itu terjadi karena pertama, selain banyaknya saudara-saudari kita yang bertahun-tahun menderita gangguan jiwa bahkan termasuk bergelandang tanpa jaminan hidup apa pun: juga karena kedua, nilai solidaritas dan kepedulian yang ada di kedalaman nurani kita mendorong kita untuk mewujudkannya.

Alhamdulilah, sudah 3000-an pasien terdata sejak 2016, dan 1000-an relawan, termasuk pihak pemerintah di beberapa kabupaten di NTT.

Di antara mereka yang sakit sudah pulih keadaannya. Yang terpasung kita bebaskan. Yang kurang dirawat di rumah, kita antar ke panti rehabilitasi jiwa. Yang potensial, kita berdayakan.

Demikian juga relawan yang tinggal dekat di NTT menaruh solidaritas. Yang di luar NTT mengarahkan kepeduliannya ke NTT. Dan dari luar negeri juga demikan. Nurani mereka terdesak untuk semampunya membantu.

***

Namun perjuangan ini tidak semulus yang kita harapakan. Banyak adangan dan tantangan yang mau tidak mau harus kita lalui bersama.

Dari dalam diri pasien, kita hadapi tantangan. Juga dari keluarganya dan masyarakat. Demikian juga pemerintah dan agama.

Tantangan sekaligus tanggung jawab yang rutin kita selalu harus hadapi adalah kerja sama dengan apotek agar obat selalu tersedia bagi para pasien di wilayah-wilayah puskesmas di NTT yang hingga kini belum menyediakan obat. Mendapatkan obat dan mendatangkannya agar sampai di tangan keluarga pasien butuh biaya tak sedikit setiap bulan untuk ukuran ribuan pasien.

Demikian juga biaya bulanan perawatan 6 pasien di panti rehabilitasi jiwa tak sedikit jumlahnya.

Tapi apa pun adangannya, kita selalu hadapi tanpa lelah.

***

Saya patut berterima kasih kepada para relawan di mana pun berada yang selama ini sudah mewujudkan solidaritasnya baik secara langsung di lapangan, maupun melalui buah tangan berupa isi saku dan pakaian serta doa.

Setidaknya ada beberapa perubahan pada kita sekalian: pasien terawat, stigma dikoreksi, pasung dibongkar, diskriminasi dilawan, solidaritas menguat dan komitmen politik Keswa pemerintah tampak maju.

Saya menulis refleksi ini setelah oleh panti, kita diingatkan akan adanya biaya perawatan beberapa pasien kita sudah beberapa bulan terakhir belum dipenuhi maksimal. Ada pun relawan yang rutin membantu tapi itu semua tetaplah tak cukup.

Prinsip yang sedang saya pakai adalah “lebih baik berutang daripada kemanusiaan saudara-saudari kita tidak terawat.”

Salam sehat jiwa. Salam peduli.*

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s