Nadia Murad dan Keberanian Melawan Arus

Oleh Erick Ebot

Nadia Murad

I was an ISIS slave. I tell my story because it is the best weapon I have. – Nadia Murad

“Pasar untuk para budak dibuka pada malam hari. Kami mendengar di lantai bawah kegaduhan para gerilyawan yang sedang mendaftar untuk ‘memakai’ kami. Dan ketika seorang gerilyawan masuk ke dalam ruangan, semua perempuan berteriak ketakutan. Pengalaman itu seperti sebuah ledakan besar buat kami.”

“Kami merintih kesakitan dan muntah karena tidak tahan aroma tubuh gerilyawan yang sangat bau. Tetapi tidak ada yang bisa menghentikan dia. Dia berjalan sekitar ruangan, sementara kami terus berteriak ketakutan dan memohon. Dia melangkah kepada seorang perempuan yang paling cantik di ruangan itu dan bertanya, ‘Umur berapa dirimu?’ sambil menggerakkan tangannya memegang rambut dan mulut perempuan. ‘Mereka perawan?’ begitu dia bertanya kembali. ‘Tentu saja!’ kata germo bak penjual barang di supermarket yang dengan bangga meyakini sang gerilyawan.”

“Setelahnya sang gerilyawan menyentuh setiap bagian tubuh perempuan itu, meremas payudara dan kakinya, memperlakukan perempuan itu seperti binatang.”

Inilah kesaksian pengalaman Nadia Murad jadi budak seks ISIS, diungkapkan dalam Gurdian, Sabtu, 6 Oktober 2018.

Inilah narasi pengalaman Nadia Murad, tentang kisahnya menjadi budak seks di kamp perang ISIS. Perempuan muda ini meraih nobel perdamaian karena perjuangannya dalam membelas perempuan korban kekerasan akibat perang.

Nadia, aktivis perempuan Yazidi berusia 25 tahun bersama Denis Mukwege, berasal dari Republik Demokrat Kongo sekaligus merupakan doktor dalam bidang ginekologis, sebuah ilmu yang mempelajari secara khusus penyakit-penyakit sistem reproduksi wanita (rahim, vagina dan ovarium).

Membaca pengalaman Nadia Murad, saya menyadari bahwa ada banyak kisah yang sama terjadi pada Nadia terjadi pula pada para perempuan hingga saat ini, di negara ini bahkan di lingkungan kita. Ada banyak ekstremis ISIS dalam bentuk dan cara lain melakukan kekerasan terhadap perempuan, mulai dari pelecehan seksual, pemerkosaan oleh orang tua terhadap anak, perselingkuhan yang sering kali hanya menyalahkan perempuan, serta kekerasam dalam rumah tangga.

Di hadapan banyak jenis kekerasan, para perempuan sering kali diam seribu kata. Mereka takut ditekan, diancam bahkan dibunuh ketika hendak ingin jujur terhadap pengalaman negatif yang mereka alami. Selain itu, masyarakat masih belum peduli terhadap isu-isu perempuan. Kiranya kisah Nadia Murad sebagai inspirasi bagi kaum perempuan juga untuk kita semua agar lebih peduli terhadap isu-isu rentan terjadi dalam masyarakat kita, serentak mendesak kita untuk menyuarakannya ke ruang publik.

Kisah tentang Nadia Murad

Nadia Murad Basee Taha, gadis Yazidi asal Sinjar, Irak, harus menelan pil pahit dalam proses kehidupannya sebagai manusia. Pada usianya yang baru beranjak dua puluh tahun, ia dijadikan sabaya atau budak seks oleh kelompok ekstremis ISIS. Ini merupakan pengalaman paling mengerikan dialami perempuan muda yang sedang merajut mimpi masa depan.

Kisah kelam Nadia dimulai medio Agustus 2014 ketika dia diculik  bersama perempuan Yazidi lainnya. Waktu itu, kampung halaman Nadia di Sinjair, bagian utara Irak diserang secara membabi buta oleh tentara ektresmis ISIS. Nadia ditangkap bersama saudari-saudarinya. Dia juga kehilangan 6 saudara dalam penyerangan itu, sedangkan Ibunya yang dianggap terlalu tua untuk dijadikan budak seks juga dibunuh secara kejam oleh tentara ISIS.

Di tempat penyekapan, di Mosul, kota di sebelah utara Irak, Nadia tidak sendirian. Banyak perempuan jarahan ISIS yang ditempatkan di sana dan dijajah menjadi pelacur atau budak seks para gerilyawan ISIS. Para perempuan diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Kekerasan dan pelecehan seksual menjadi biasa di tempat itu. Bahkan tidak sedikit perempuan yang harus merengang nyawa karena nekat kabur dari tempat penyekapan yang sadis itu.

Nadia pada akhirnya menjadi satu dari sekian banyak perempuan yang gagal, berhasil kabur dengan selamat dari Mosul. Dia menyusup lewat Irak, dan pada tahun 2015 menuju Jerman sebagai pengungsi. Pada tahun yang sama, dia mulai mengampanyekan tentang pentingnya meningkatkan kesadaran terhadap fenomena perdagangan perempuan yang saat itu bahkan hingga kini masih belum menjadi isu bersama pada level internasional.

Pada November 2015, satu tahun dan tiga bulan setelah ISIS datang ke Kocho, kota kelahirannya, dia meninggalkan Jerman menuju Swiss untuk berbicara di hadapan forum yang menangani persoalan kaum minoritas di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada kesempatan itu, Nadia menarasikan banyak hal tentang pengalamannya selama menjadi tawanan ISIS. Kisah itu bervariasi, dimulai dari anak-anak yang dibiarkan meninggal karena dehidrasi, para keluarga yang terjebak di pegunungan yang ketakutan dan lari dari kejaran ISIS, ribuan perempuan dan anak-anak yang masih menjadi tawanan ISIS, serta tindakan brutal para ekstremis yang membunuh para lelaki yang melawan mereka.

Dari sekian banyak tawanan ISIS lainnya, Nadia merupakan satu-satunya yang selamat, kemudian dengan berani bercampur takut pada jiwanya, berbicara di hadapan publik perihal fakta kelam yang dialami para tawanan, khususnya perempuan di kamp ISIS.

Kisah pengalaman Nadia mengingatkan kita akan kerasnya dunia tanpa damai. Dunia yang hari-harinya hanya perang. Dunia yang hari-harinya memamerkan kekuasaan dengan cara paling kejam. ISIS menjadi simboli bahwa kekerasan dan perang tidak pernah akan menciptakan damai, selain kehancuran material hingga kemanusiaan.

Berani Melawan Arus

Kekerasan terhadap peempuan banal terjadi karena ketidakadilan gender. Konstruksi sosial-kultural yang dibentuk dan didominasi laki-laki menempatkan perempuan pada posisi subordinasi. Karena makna keberadaan perempuan ditentukan oleh nilai, cita-cita dan harapan kaum lelaki, maka kaum perempuan dipandang tidak lebih dari pada sekadar objek yang dapat diperalat demi kepentingan kaum lelaki.

Pola relasi relasi yang tidak sederajat seperti ini memosisikan bahkan menjebak perempuan ke dalam keadaan rentan akan ketidakadilan gender yang konkretnya adalah kekerasan beraneka ragam.

Harus diakui bahwa Nadia Mirad adalah satu dari sedikit perempuan yang mau bangkit dan bersuara terhadap pengalaman kekerasan seksual. Di tengah kuatnya dominasi kaum lelaki serta minimnya akses kekuasaan bagi perempuan untuk menentukan nasibnya, Nadia berani melanggar batas dan aturan kaum lelaki yang represif dan berbicara mengungkapkan pengalaman kekerasan. Dia sadar bahwa dengan buka suara, pengalaman negatif kaum perempuan bisa didengarkan dan diperjuangkan secara bersama.

Filosof eksistensialisme Prancis, Simone Beauvoir, menegaskan bahwa upaya memperjuangkan keadilan gender dan menentang kekerasan terhadap perempuan akan berjalan dengan baik jika ada dukungan  masif dari masyarakat sekitar.

Membaca pengalaman Nadia Mirad sebagai budak ISIS dan merenungkan kisahnya yang begitu mencekam, saya menyadari betapa kuat dan besarnya jiwa seorang Nadia berhadapan dengan pengalaman traumatis yang kelam dan kejam di kamp perang ISIS. Rasa-rasanya, ia sangat sulit pulih dan sembuh dari sakit dan kemarahan, ketika membaca kembali kisah pilu nan menyedihkan, apalagi berhadapan dengan stigma dan diskriminasi masyarakat yang masih kuat terhadap perempuan mantan budak seks.

Akan tetapi, Nadia buka suara. Dia berani melawan arus pemikiran umum yang melemahkan perjuangan kaum perempuan. Dia sadar betul, sebuah pengalaman negatif yang tidak diungkapkan hanya akan mengantar orang pada kehancuran dirinya secara perlahan. Depresi dan bunuh diri karena bungkam terhadap kekerasan yang dialami seseorang tidak akan membawa solusi. Dia yakin bahwa untuk keluar dari penderitaan dan pengalaman traumatis, orang harus kembali mengisahkan dan membongkar semua kekelaman itu agar semua orang sadar dan terbuka untuk berjuang bersama memerangi kekerasan serta ketidakadilan.

Nadia berujar “saya adalah mantan budak seks ISI. Saya menceritakan semua pengalaman dan kepedihan saya karena hanya itu saja senjata terbaik untuk memulihkan trauma dan penderitaan saya. Ada banyak perempuan di luar sana yang takut dan tertekan serta bungkam dengan pengalaman traumatis akibat kekerasan yang dialaminya. Karena itu, saya bersuara untuk membantu, dan kalau mungkin, menginspirasi mereka dan masyarakat untuk bersama-sama membebaskan diri dan berani untuk buka suara terhadap pengalaman kekerasan perempuan baik dalam ruang privat maupun ruang publik. Kekuatan, keberanian dan martabat, itu ada dalam diri semua manusia, tak terkecuali perempuan.”

Erick Ebot, Mahasiswa STFK Ledalero, Flores

Tidak ada alasan bagi perempuan dan masyarakat untuk diam berhadapan dengan ketidakadilan. Orang tidak boleh diam karena diam adalah tanda kekalahan. Diam adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan kita.

Maka untuk para perempuan, jangan mau kalah dengan pengalaman negatif yang tak pernah selesai menimpamu. Beranilah! Ingat, jangan mencari keberanian di luar dirimu karena hal itu bisa melemahkanmu! Carilah keberanian dalam dirimu karena keberanian yang paling berani ada di dalam dirimu yang paling dalam.*** (Flores Pos, 19 Oktober 2018)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s