Literasi Kontekstual

Oleh Avent Saur

Pada Hari Pendidikan Nasional 2017, Presiden Jokowi mengundang perwakilan pegiat literasi dan taman baca di seluruh Indonesia. Hadir pada kesempatan itu, Noken Pustaka dari Papua.

Ilustrasi membaca.

Noken berinisiatif membawa buku-buku di dalam noken (tas tradisonal orang Papua), semacam menjemput bola, membuka pintu bagi masyarakat untuk dengan mudah mengakses bahan bacaan.

Pada kesempatan itu, ada juga pegiat Angkot Pustaka dari Bandung. Ia menyediakan bahan bacaan di dalam angkot buat para penumpang.

Mendengar cerita mereka, Jokowi menyatakan janji untuk membantu aktivitas operasional sejumlah taman baca dan menyalurkan 10.000 buku ke taman baca di seantero pelosok Tanah Air.

Satu kebijakan lainnya adalah menggratiskan biaya pengiriman buku sehari dalam sebulan melalui Kantor Pos Indonesia.

6000 Taman Baca

Sejauh ini, dalam data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada kurang lebih 6000 taman baca tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah ini tentu tak terbilang dengan taman baca yang diinisiasi oleh masyarakat. Di Ende, misalnya, ada belasan taman baca milik masyarakat pegiat literasi. Demikian juga di daerah lain.

Gerakan taman baca sebenarnya sudah dimulai di Indonesia pada tahun 1910. Penggeraknya adalah Balai Pustaka. Fasilitas itu dibangun terutama untuk menyimpan bahan bacaan, tidak lebih daripada sebuah perpustakaan, tempat orang membaca.

Tahun 1950-an, muncul juga Taman Pustaka Rakyat (TPR). Tujuannya, untuk memberantas buta aksara. Gerakan ini berkembang hingga tahun 2000.

Setelah tahun 2000, gerakan literasi taman baca berkembang pesat, bukan lagi diinisiasi oleh pemerintah, melainkan masyarakat, terutama kaum muda. Latarnya, bukan terutama untuk memberantas buta aksara, melainkan mengakomodasi masyarakat yang ingin membaca dan berdiskusi, sebuah peluang yang boleh jadi tidak ditemukan di wadah pendidikan normal.

Karena itu, di taman baca, masyarakat bisa mengakses pengetahuan sekaligus informasi aktual demi mencerahkan dan mengembangkan wawasannya.

Dan karena itu pula, di taman baca, orang mengakses bukan hanya buku-buku lama atau baru, melainkan juga koran harian, koran mingguan dan bulanan, selain jurnal.

Suasana taman baca tentu berbeda dengan suasana di rumah, sekolah dan kantor atau tempat kerja lainnya. Karena itu, taman baca dipakai sebagai wadah orang berliterasi dalam suasana santai.

Teknologi Komunikasi

Terutama terkait perkembangan teknologi komunikasi, melalui taman baca, orang menggunakan alat teknologi komunikasi bukan hanya untuk komunikasi antarpersonal jarak jauh, melainkan juga berkomunikasi dengan para ahli dan penulis serta sutradara film.

Selain membaca, di sana orang menonton dan membedah film.

Selain membaca, di sana orang berdiskusi dan berdebat.

Selain membaca, di sana orang akan melatih menulis, melatih meringkas bahan bacaan, melatih cara membaca yang efektif.

Selain mengkritik, di sana orang memberikan masukan yang bermakna.

Selain berteman, di sana orang saling mendukung dalam perjuangan dan usaha kreatif.

Hal-hal inilah yang kiranya terjadi pada taman-taman baca di wilayah kita  yang kini kian menjamur.

Di Ende, Pulau Flores, bukan hanya ada taman baca, melainkan juga sudah ada sebuah forum yang coba merangkul taman-taman baca. Kiranya gerakan ini menjadi pemersatu untuk sama bergerak mencerahkan masyarakat.

Pada akhirinya, taman baca akan membentuk sebuah peradaban baru yang maju, dan mengarahkan orang untuk selalu menciptakan peradaban baru lainnnya yang konstruktif. Di situlah, literasi kita menjadi sesuatu yang kontekstual.*** (Flores Pos, 25 Juli 2019)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s