Suara Perempuan dari Desa Tunua

Tengah Juli 2019, Gres Gracelia mendengarkan kisah perjuangan Mama Yandri, perempuan pejuang Desa Tunua, Kecamatan Molo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

  •  Galian Tambang dan Lahan Pertanian yang Gagal

Oleh Gres Gracelia

Gres Gracelia, Global Ambassador for Human Rights and Peace Indonesia 2019 Tinggal di Kupang

“Suara perempuan merupakan suatu lokus yang selama ini banyak dihilangkan dalam penyakit akut amnesia sosial. Mengapa? Karena perempuan sulit menarasikan pengalamannya dalam narasi politik dan narasi formal.”Dewi Candraningrum

Saya mau cerita tentang perjalanan menuju Tunua. Salah satu desa yang terletak di Kecamatan Molo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Desa Tunua merupakan salah satu desa bekas galian tambang oleh PT Sumber Alam Marmer yang beroperasi sejak 2003 hingga akhirnya berhenti 2008.

Desa Tunua dikenal sebagai lokasi bekas tambang batu Naitapan. Tambang batu itu mengisahkan sejuta perlawanan. Perlawanan terhadap perusahaan tambang yang berhasil ini, juga yang membuat Desa Tunua berubah wajah menjadi desa berkembang dengan sangat pesat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

***

Berbicara perlawanan tentu tak lepas dari campur tangan perempuan. Sebab perempuan dan alam adalah satu-kesatuan, sulit dipisahkan.

Seperti dalam sebuah Jurnal “Politik Tubuh Perempuan: Bumi, Kuasa, dan Perlawanan” karya Daniel Susilo dan Abdul Kodir, upaya mendefinisikan perempuan selalu diasosiasikan dengan alam, maka secara konseptual, simbolik, dan linguistik, ada keterkaitan antara isu feminisme dengan ekologi.

Sebagai contoh, dalam banyak tradisi masyarakat Indonesia, penyebutan Tanah Air (Bumi) sering didekatkan dengan Ibu Pertiwi (sifat feminis). Dalam pandangan Karen J. Waren (Arivia, 2006, 381), hal itu tidak mengherankan, mengingat masyarakat Indonesia dibentuk oleh suatu sistem nilai, kepercayaan, pendidikan, dan tingkah laku, yang berangkat dari suatu kerangka kerja patriarki, yang melakukan justifikasi terhadap hubungan dominasi dan subordinasi, penindasan perempuan oleh laki-laki.

Dokumen Flores Pos edisi cetak, 1 Agustus 2019, yang memublikasikan kisah Gres Gracelia.

Selain itu, Weren juga menjelaskan bahwa berpikir hierarkis, dualistik (biner), dan menindas adalah pola pikir maskulin yang telah mengancam keselamatan perempuan dan alam. Faktanya, perempuan memang selalu di-alam-kan atau di-feminim-kan.

Misalnya, tanah yang digarap, bumi yang dikuasai, dan hutan yang diperkosa. Pada akhirnya, tidak mengada-ada bila perempuan dan alam mempunyai makna simbolik karena sama-sama ditindas oleh mereka (other) yang berkuasa dengan atribut maskulin.

***

Perjuangan perlawanan atas tambang di Desa Tunua tak lepas dari dukungan dan campur tangan perempuan yang merasa bahwa diri mereka sedang diperdaya oleh investor tambang yang hendak menguasai batu dan tanah di kampung mereka. Galian tambang dan lahan pertanian yang gagal adalah suara perempuan dari Desa Tunua.

Sebut saja, Mama Yandri Tanu Djo (43), yang pada kesempatan tengah Juli 2019 berbagi cerita, mengisahkan suka duka kehidupan saat perusahaan tambang PT Sumber Alam Marmer masih beroperasi di Tunua.

Mulanya, kata Mama Yandri, sebelum beroperasi, perusahaan itumemberikan janji-janji kesejahteraan bagi masyarakat Tunua. Misalnya, bangun jalan raya dan gedung kebaktian. Namun selama beroperasi, 100 persen janji tidak berjalan baik. “Kami masyarakat merasa terganggu. Kami kecewa sekali karena janji tidak dipenuhi. Kami rasa ditipu.”

Saat perusahaan itu beroperasi ada dampak buruk terhadap hasil pertanian warga. Produksi sayur-sayuran semakin menurun.

“Saya terganggu sekali karena di situ saya punya lokasi bertani. Tanaman rusak saat terjadi longsor akibat getaran alat berat di galian tambang marmer.”

Sebelum perusahaan beroperasi, lahan kebunnya biasa memproduksi tanaman pertanian berupa kacang merah, ubi jalar, bawang merah, dan bawang putih. Hasil pertanian ia gunakan untuk biaya sekolah anak-anak dan kebutuhan rumah tangga.

Semua dampak kerugian yang besar ini dialami oleh Mama Yandri dan semua masyarakat Tunua. Namun masyarakat tidak tinggal diam. Mereka blokir jalan menuju lokasi tambang sehingga akses keluar masuk alat berat dari dan ke lokasi terganggu. Mereka juga tolak konsensus dengan pemerintah setempat.

Semua aksi ini dilakukan oleh semua warga desa, dipimpin Kepala Desa Tunua, Bapak Maher Tanu.

Upaya ini dilakukan bertahun-tahun, dan membuahkan hasil. “Sekarang kami sudah bisa siram tanaman. Dulu air dari PT itu kami tidak pakai karena keruh dan mengandung oli. Ada juga bensin yang tercampur di air itu sehingga kami tidak bisa pakai untuk siram tanaman.”

“Begitu pula ternak, tidak bisa minum. Bahkan tanaman umur panjang seperti jeruk, juga mengering. Setelah tambang tiada, semua yang buruk itu sudah tidak ada lagi. Kehidupan kami jauh lebih baik.”

“Meski sudah lakukan penolakan dan aktivitas PT sudah berhenti, saat ini yang kami harapkan adalah izin tambang harus dicabut. Jangan sampai tambang itu bisa kembali ke desa kami.”

***

Mama Yandri dan kisah penolakan tambang Desa Tunua, semoga menginspirasi para perempuan dan masyarakat NTT yang mungkin saat ini sedang melakukan perlawanan terhadap investasi besar-besaran di bidang usaha pertambangan, pariwisata atau perkebunan skala besar yang berpotensi merusak lingkungan dan mengambil alih tanah ulayat rakyat.

“Sebab perempuan dan alam adalah satu-kesatuan, sulit dipisahkan.”*** (Flores Pos, 1 Agustus 2019)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s