Ketika Rakyat Mabar Makan “Raut”

Ubi

Ubi hutan atau raut dalam bahasa Manggarai, Flores, NTT, mengandung racun

Oleh Avent Saur

Tidak masuk akal, jika dipikir-pikir, warga Manggarai Barat terancam mengalami kelaparan, apalagi kelaparan hebat, sebagaimana diberitakan media ini, pertengahan September lalu. Apa sebab? Potensi pertaniannya bagus, demikian juga pariwisata. Mayoritas masyarakatnya hidup bertani, para pemimpinnya juga selalu mengusung aspek pertanian dengan pelbagai kebijakan strategis.

Terkhusus lagi, para pemimpinnya berasal dari kampung-kampung, lahir dari Ayah-Ibu petani. Hal ini tentu membangkitkan harapan dan kebanggaan akan hadirnya pemimpin yang merakyat.

Namun di manakah keunggulan-keunggulan ini ketika yang sering terdengar justru pengalaman kelaparan? Menurut hasil reses segelintir wakil rakyat, ancaman kelaparan terjadi karena gagal panen; gagal panen terjadi karena kekeringan, dalam bahasa lebih mondial, el nino (angin beserta panas yang menghalangi kehidupan tumbuh-tumbuhan terutama tanaman komoditas).

Bukan hanya bersumber dari hasil reses pada pertengahan September itu, beberapa pengamatan dan laporan dari masyarakat serta pemerintah lokal (kepala desa dan camat), informasi gagal panen dan kekurangan pangan sudah muncul beberapa bulan terakhir ini. Yang teranyar, lantaran kekurangan pangan, warga Desa Golo Ndoal terpaksa mengonsumsi “raut”.

Di hadapan ancaman kelaparan yang segera datang dan yang sudah serta sedang dialami rakyat Golo Ndoal, masihkah kita berbangga dengan potensi-potensi seantero Manggarai Barat baik alamnya, maupun orang-orangnya, termasuk para pemimpinnya?

Jelas, tidak! Sekali lagi, tidak! Kebanyakan, potensi-potensi itu hanya dijadikan barang murahan (obralan) saat berkampanye jelang pesta demokrasi lokal; juga diangkat entah saat ingin menyenangkan hati rakyat, entah juga untuk mengelabui rakyat dari perhatian terhadap pelbagai kekurangan pemerintah, atau lain lagi, untuk mengalihkan pembicaraan masyarakat yang sering berkeluh kesah perihal pembangunan yang tidak maju-maju.

Di hadapan ancaman (dan realitas) kelaparan itu, selain mengendurkan rasa bangga akan potensi-potensi, itu juga terutama memunculkan pertanyaan sederhana: apa yang telah dibuat pemerintah?

Datanya memang agak jelas, entah bersumber dari mana asal aslinya; bahwa per September tahun ini, ada 240 hektare lahan kedelai yang kering, dan padi sejumlah 60,5 hektare. Ini baru dua jenis komoditas; jagung, kacang, jambu mete, kemiri, cengkih, kakao, belum termasuk di dalamnya.

Belum terdengar, langkah yang ditempuh pemerintah dalam mengatasi bencana ini. Malahan, Nagus Petrus yang adalah Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan meminta pemerintah – ahhhh ya pemerintah itu siapa? Keraeng bukan pemerintah? – untuk peka terhadap situasi warga, khusus rakyat Ndoal. Yah, yang Petrus maksudkan, mungkin mereka di dinas sosial, dan terutama penjabat bupati, yang diisukan justru berpihak kepada paket tertentu dalam proses pilkada ini. Susah kan?

Kembali ke raut. Raut itu tanaman umbi-umbian, bertumbuh liar di hutan; bukan sebuah jenis makanan. Bukan hanya tidak bagi manusia, binatang hutan juga pun tidak memakannya. Ia beracun. Karena itu, pada zaman nenek moyang, raut dimakan, dengan proses pengawetan terlebih dahulu. Prosesnya lama.

Ini hanya mungkin mana kala – seperti sekarang – terjadi gagal panen, ditambahkan lagi minimnya sarana transportasi, juga air dan listrik. Singkatnya, saat itu, rakyat sangat jauh jaraknya dari pemerintah, sulit terjangkau.

Namun kini, ceritanya mesti lain sama sekali, lantaran jarak antara rakyat dan pemerintah sudah dekat baik secara politis maupun geografis. Rasanya – kembali kepada tidak masuk akal jika dipikir-pikir – lantaran pemerintah itu “dekat di mana, jauh di hati”. Sayangnya, beribu-ribu kali. Kita hanya menuntut dan berharap, tetapi sekian sering, semuanya hanya sebatas itu saja.

Lanjutnya pun begini: ketika rakyat Manggarai Barat memakan raut, peserta pilkada akan sangat mungkin mengobral janji dan membohongi rakyat, atau juga pura-pura bersolider sembari menitipkan pesan-pesan balas jasa, dan atau juga, memanfaatkan “makan raut” untuk mengkambinghitamkan incumbent (ini lebih mungkin terjadi).

Rakyat makan raut, pelayan publik kelebihan nasi (dan lauk), kiranya menjadi sinisme yang menggedor nurani orang-orang penting di Labuan Bajo, yang adalah kota persoalan itu. Betapa diharapkan, para pelayan publik mesti kembali kepada esensi politik – layani rakyat secara keseluruhan – agar kejadian-kejadian yang “tidak masuk akal” semakin berkurang dari waktu ke waktu, dan dengan itu pun, setidaknya ada perubahan ke arah baik yang notebene dicita-citakan oleh semua orang.*** (Kolom Bentara, Flores Pos, Selasa, 6 Oktober 2015)

Baca terkait:

Masyarakat Golo Ndoal di Manggarai Barat Konsumsi “Raut”

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s