Kecerdasan Kewargaan

Oleh Avent Saur

Wisuda

Tiga panti pendidikan swasta di Flores, pada dua pekan terakhir, mengutus para sarjananya yang baru, melalui seremoni wisuda. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Ruteng 1221 sarjana pada Sabtu (26/9),  Universitas Flores (Uniflor) Ende 894 sarjana pada Sabtu (3/10) dan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Ende 69 sarjana pada Sabtu (10/10).

Ke pundak 2184 sarjana baru ini, diletakkan pikulan berupa harapan moral baik oleh yayasan, lembaga pendidikan, dosen, orangtua maupun  masyarakat. Tentu, mereka sendiri juga menaruh pikulan itu bukan cuma ke pundaknya, melainkan juga ke seluruh dirinya. Isi pikulan itu adalah harapan akan adanya aksi perubahan bagi masyarakat di mana ia akan mengabdi, yang tentu di dalam masyarakat itu ia menjadi salah satu individunya.

Harapan itu bukan tanpa dasar. Selama proses pendidikan, dengan pelbagai dinamikanya, mereka ditempa dengan pelbagai cara yang mendidik, disuguhkan dengan ragam pengetahuan, dan dilatih dengan pelbagai praktik sosial serta dikenalkan dengan dan terlibat dalam organisasi kritis. Bertolak dari sini, oleh banyak peneliti, kemampuan sarjana Indonesia bisa diandalkan, sekalipun tetap saja ada hal-hal “kurang lebihnya”.

Dengan dasar-dasar itu, mereka sekurang-kurangnya memenuhi ukuran-ukuran kecerdasan populer: intelligence quotient (IQ) atau kecerdasan intelektual, emotional quotient (EQ) atau kecerdasan emosional dan spiritual quotient (SQ) atau kecerdasan spiritual. Namun menurut Yudi Latif, seorang staf Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, misalnya, – kiranya pendapat ini tepat adanya dan mengena – sekalipun pemenuhan ukuran-ukuran kecerdasan ini patut diapresiasi, tetapi semua itu belum cukup mengatasi pelbagai krisis berupa-rupa noda yang mengotori wajah masyarakat-bangsa ini.

Yudi Latif berani memberikan contoh seorang sarjana kurang mengabdi rakyat bahkan justru mencuri duit rakyat saat ia bergabung dalam dunia politik atau mengambil peran dalam birokrasi pemerintahan, padahal semasa mahasiswa, ia mengkritik kelakuan politisi dan birokrat yang melakukan persis yang ia lakukan sekarang.

Apa yang kurang (bahkan salah)? Yudi Latif berpaling kepada lembaga pendidikan sebagai arena di mana sarjana ditempa. Lembaga pendidikan lalai mengembangkan apa yang disebut Yudi, civic quotient (CQ) atau kecerdasan kewargaan; lebih bahkan hanya memfokus pada tiga kecerdasan personal tadi. Idealnya, adalah sebuah kewajiban moral, lembaga pendidikan menautkan kecerdasan-kecerdasan personal ke dalam kecerdasan kolektif-kewargaan.

Lebih jelas, dikatakan Yudi, dalam diri manusia terdapat dua ruang kedirian: kedirian privat (private self) yang bersifat personal-khas, dan kedirian publik (public self) yang bersifat sosial. Bagaikan dua sisi koin, keduanya bisa dibedakan, tetapi sama sekali tidak bisa dipisahkan. Ruang private self diisi dengan IQ, EQ dan SQ, sedangkan public self diisi dengan CQ.

Disinyalir, masyarakat Indonesia sungguh lemah dalam CQ, karena ketiga kecerdasan lainnya tidak ditautkan dengan CQ. Dengan itu, di mana-mana dan dari masa ke masa, ditemukan banyak orang Indonesia yang cerdas, matang dan (merasa) suci, tetapi mereka tidak menjadi warga Negara Indonesia yang baik (kewargaan). Warga Indonesia lebih sebagai deretan alfabetis (huruf), sulit disusun sebagai kesatuan dalam perbedaan (Bhinneka Tunggal Ika).

Dalam konteks pendidikan, adalah tugas lembaga pendidikan mengambleng calon sarjana dengan mengawinkan secara harmonis kecerdasan-kecerdasan itu. Kelalaian atas tugas moral ini berimbas pada produk sarjana individualistis dan egoistis, yang sulit mengembangkan diri, bahkan tersesat (mencari jalannya sendiri dan sendirian), sebagaimana disinggung pegiat pendidikan ursulin, Suster Ferdinanda Ngao OSU. “Ketika sendirian, tidak ada teman yang memberikan solusi, menemui jalan buntu. Tidak ada sahabat yang memberikan semangat baru di kala sudah letih.”

Imbasnya, peletakan pikulan ke pundak sarjana dan seremoni wisuda hanya sebatas formalitas dan sandiwara panti pendidikan. Pikulannya pun diangkatknya lalu dibuang jauh, sementara persoalan bangsa menjadi kian menumpuk. Seorang sarjana mesti menjawab kritik ini.*** (Kolom Bentara, Harian Umum Flores Pos, 13 Oktober 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s