Putra Tunggal untuk Tuhan

???????????????????????????????

Wakil Provinsial SVD Ende dan Dosen STFK Ledalero, Pater Lukas Djua SVD menjadi selebran utama (kasula kuning) dalam perayaan Ekaristi Kaul Kekal Bruder Nelson SVD, Jumat (15/8).

  • Kisah Panggilan Bruder José Nelson Maria Vidigal, SVD

Oleh AVENT SAUR, SVD

“Semasa kecil, saya merasakan didikan yang keras dari orang tua, sering dipukul karena nakal; akan tetapi semuanya dirasa baik ketika sudah menjadi dewasa.” – Bruder Nelson, SVD

Bruder Nelson lahir (anak kedua) dari persatuan cinta antara Bapa Roberto Vidigal dan Mama Maria Laura, di Maubara, Republica Democratica de Timor Leste (RDTL), pada 17 Juli 1986 silam. Bapa Roberto, seorang polisi, sedangkan Mama Laura, seorang perawat. Sebagai pegawai negara, sebenarnya, dari sisi ekonomi, kehidupan keluarga ini tergolong “lebih dari cukup”. Namun mendalami keadaan keluarganya, Bruder Nelson berujar, “Saya dilahirkan dalam keluarga yang sederhana”.

???????????????????????????????

Yubilaris dan keluarga (baris terdepan) dan umat yang berpartisipasi dalam ekaristi Kaul Kekal Bruder Nelson, SVD.

Perihal sederhana, ini bukan hanya sebuah ujaran semata, melainkan sebuah ujaran yang didasarkan pada cara hidup Bruder Nelson sendiri terutama selama berada dalam jenjang-jenjang formasi dasar SVD. “Ia tampil sederhana dan rendah hati,” kata Bruder Edel Atalema (Direktur Postulat BBK Ende tahun 2004) dan Bruder Stef Hardi (teman kelas postulat tahun 2004). Hal ini tentu menguatkan Bruder Nelson untuk menghidupi nasihat-nasihat injili yang terjelma dalam kaul-kaul kebiaraan terutama kaul kemiskinan.

“Mana-Mana Saja”

Kiranya, perlu didalami secara serius, dalam keluarga sederhana ini, ia dilahirkan sebagai putra semata wayang, putra tunggal. Bagi Bruder Nelson, status ketunggalan ini tak pernah mengusik ziarah panggilannya. Hal ini selaras dengan isi hati orang tua. “Ini soal pilihan hidup. Bebas. Mana-mana saja,” ujarnya mengikuti kata Mama Laura.

Tapi bagi Kakeknya (ayah dari Bapa Roberto), rasanya memang agak berat mengingat “tidak ada yang meneruskan keturunan”.

Masih segar dalam ingat Bruder Nelson, perasaan berat sang kakek ini, tergambar dalam satu pengalaman unik. Bahwasanya, dalam suatu kesempatan liburan, kakeknya bertanya, “Kapan kami ada cece?”. Ini sama dengan, “Kapan kamu beristri?” Dalam bahasa Tetum (baca: tetun), cece berarti ubu ana. Dan ubu ana, secara harafiah berarti “alis mata”. “Kapan kamu memiliki alis mata?” Jawabannya, cuma senyuman, ditambah celotehan, “Kan masih sekolah. Urus sekolah dulu, baru cari alis mata”.

Dan ketika kini hendak mengikrarkan kaul kekal, harapannya cuma satu, “kiranya sang kakek tidak merasa terbeban dengan pilihan cucunya yang secara total menyerahkan diri untuk Tuhan”. Singkat kata, mungkin lebih tepat diserukan, “Anak tunggal untuk Tuhan”.

Imam atau Bruder Itu Sama Saja

Pertanyaan yang paling gampang dijawab Bruder Nelson adalah mengapa mau jadi bruder? “Bruder atau imam itu sama saja,” tegasnya. Yah, tentu jawaban ini tidak berarti “semuanya” sama. Seturut yang dia ingat terkait materi yang dipromosikan Bruder Klemens Balan SVD puluhan tahun silam di Timor Timur, dalam konteks SVD, “bruder dan imam itu sama-sama karena makan di kamar yang sama, menu makannya sama, jalankan misi yang sama, berkaul sama, mengikuti konstitusi yang sama. Bedanya, cuma satu: dalam konteks Gereja universal, imam bisa melayani sakramen-sakramen.”

Gaya promosi Bruder Klemens memang sungguh manjur, karena sebetulnya, sejak SMP, Bruder Nelson tertarik bersekolah di seminari, dan dengan demikian, ia ingin menjadi imam. Keinginan ini sejalan dengan apa yang ada dalam hati sang Ayah Roberto Vidigal. “Bapa mau, saya jadi imam, karena imam itu, jumlahnya lebih banyak. Bruder itu jumlahnya sedikit saja,” ujarnya, mengikuti tutur sang ayah. Yah, boleh dibilang, “kalau jadi imam itu agak menggemparkan dan lebih fenomenal daripada menjadi bruder”. Padahal sebetulnya, inti panggilannya sama saja.

“Banyak anggota keluarga besar, dan juga para tetangga, lebih mengenal saya sebagai frater daripada bruder. Ketika berlibur, saya lebih sering dipanggil frater.”

Pengalaman-pengalaman sosial-religius ini sama sekali tidak menggugah Bruder Nelson untuk “tidak menjadi bruder”. Yah, sekalipun pernah ditantang temannya semasih SMA. “Ah, daripada menjadi bruder, lebih baik menjadi katekis saja.”

Siap Diutus

Menjadi bruder sudah tertanam dalam diri Nelson, dan tidak dapat dicabut lagi. Yang menjadi pekerjaan rumah sekarang adalah menghidupi panggilannya itu dalam terang SVD dan Gereja – (klik juga di sini) yang dibalut dengan nasihat-nasihat injili (kaul kemurnian, kemiskinan dan ketaatan).

Selama masa kaul sementara, tak ada pengalaman unik berkait kemudahan atau kesulitan dalam mewujudkan kaul-kaul. Baginya, kalau kaul yang satu ditaati, maka kaul yang lainnya pun ditaati. Sebaliknya, kalau kaul yang satu dilanggar, maka kaul yang lainnya pun dilanggar. Ketiga kaul itu berada dalam satu-kesatuan, dan berani mengikrarkan kaul kekal menandakan bahwa Bruder Nelson sudah matang dalam menghidupi kaul-kaul itu.

???????????????????????????????

Bruder Nelson SVD pose bersama dua santri dari Pondok Pesantren Walisanga Ende usai perayaan ekaristi.

Kita tentu ingat, pada saat mana Yesus mengutus para murid-Nya. “Pada saat, para murid sudah siap diutus.” Pada masa persiapan, Yesus mengajarkan mereka tentang pelbagai perumpamaan dan artinya. Yesus menunjukkan kepada mereka pelbagai mukjizat atau tanda-tanda besar (dunameis) –klik juga di sini.

Ikrar kaul kekal yang akan dipersaksikan Bruder Nelson adalah sebuah tanda kesiapan untuk diutus. Dengan itu, saat-saat terakhir sebelum pengikraran itu, ia melayangkan lamaran untuk sudi kiranya, pemimpin SVD di Roma mengutusnya ke salah satu tempat misi: antara Provinsi SVD Ende atau Provinsi SVD Timor atau Provinsi SVD Brazil. Entah di mana saja ia diutus, misi intinya satu: bekerja sebagai perawat (tabib) seturut ilmu yang dia pelajari di lembaga Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik Santu Vincentius a Paulo Surabaya selama 5 tahun (2008-2013). (NB: saat misa ikrar kaul kekal, Bro Nelson diutus ke Provinsi SVD Ruteng).

Maka, dalam konteks misi sebagai tabib, genaplah nas ini: “Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,” (Lukas 9: 1-2). Dan kita pun yakin bahwa saat pengikraran kaul kekal adalah saat penerimaan kuasa dan saat pengutusan. Kekuatan (kemampuan dan pengetahuan) yang Bruder Nelson miliki dan karya misi yang ia kerjakan adalah kekuatan dan karya Tuhan sendiri.

Nah, ke manakah Bruder Nelson akan diutus? Kita akan mendengarnya dalam Ekaristi Pengikraran Kaul Kekal, 15 Agustus 2014. Perayaan ekaristi yang dikemas dengan tema “Perbuatan Besar Dikerjakan Bagiku oleh Yang Mahakuasa” (Luk 1:49) ini akan dipimpin Wakil Provinsial SVD Ende dan Dosen STFK Ledalero, Pater Lukas Djua SVD, berlangsung di Aula Biara Santu Konradus Ende, pukul 17.00 Wita. Seperti Maria yang mengidungkan pujian kepada Allah, demikian Bruder Nelson mengulang secara tegas kidung pujian itu kepada Allah yang telah memilih dan mengutusnya.

Cerita Unik

“Saat masih kecil, saya nakal sekali. Saya jarang ada di rumah, sering keluar. Tidak taat orang tua. Seringkali, orang tua pukul. Suatu ketika, saya dan kakak perempuan disiksa bapa-mama. Kami diikat di salah satu tiang rumah, lalu bapa-mama pukul. Luar biasa. Tapi semuanya itu dirasa baik ketika saya sudah menjadi dewasa. Orang tua bermaksud supaya saya menjadi orang baik, dan sekarang saya sudah menjadi orang baik.” – Bruder Nelson, SVD

“Supaya saya tidak nakal lagi, maka ketika memasuki SMP, orang tua bersepakat, saya dimasukkan ke asrama supaya disiplin dan ketat. Namun ketika saya sudah di asrama, jauh dari rumah, mama menangis.” – Bruder Nelson, SVD

“Bapa-mama mau saya mesti istirahat pada siang hari supaya sehat. Yah, mama kan perawat. Saya ikuti tapi saya tidak tidur. Ketika bapa-mama sudah tidur nyenyak, saya bangun dan melompat lewat jendela.” – Bruder Nelson, SVD

“Ketika masih postulan, seorang teman ceritakan pada saya, bahwa Nelson sedang menangis. Saya pun datang dan saksikan sendiri. Terlihat dekatnya, ada surat dari mamanya. Yah, Nelson menangis setelah membaca surat sang bunda (Maria Laura). Isinya? Entahlah. Mungkin saja mamanya menulis surat itu juga dengan cucuran air mata. ” – Bruder Stef Hardi, SVD

BRO, PROFICIAT E… (Flores Pos, Kamis, 14 Agustus 2014).***

Baca artikel sebelumnya: “Yang Tersisa, Saya Seorang Diri”

???????????????????????????????

Bruder Nelson sedang bertiarap saat litani para kudus dinyanyikan sebagai tanda kerendahan hati dan ketidakberdayaan di hadapan Tuhan yang memanggilnya.

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Putra Tunggal untuk Tuhan

  1. Pingback: “Yang Tersisa, Saya Seorang Diri” | SENTILAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s