Kasus Lorens Wadu Masih Menyimpan Misteri

  • Keluarga Pertanyakan Kartu Handphone Almarhum

Oleh Maxi Gantung

Bunuh

Ilustrasi korban pembunuhan

Lewoleba, Flores Pos–Kasus pembunuhan be­rencana terhadap mantan Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lemba­ta, Aloy­sius Laurensius Wadu atau lebih dikenal Lorens Wadu, dua tahun lalu, tepatnya Sab­tu, 8 Juni 2013 masih me­nyim­pan banyak misteri. Walau­pun Vinsen Wadu, adik kan­dung korban dija­tuhi hukum seumur hidup dan tiga pelaku lain sebagai eksekutor dijatu­hi hukuman 18 tahun, kasus Lorens Wa­du masih menyim­pan ba­nyak misteri dan ke­janggalan.

Vinsen Wadu sebagai otak pembunuhan berencana dan Marsel We­lan, Arifin Maran dan Nani Ruing sebagai eksekutor. Vin­sen Wadu saat pemeriksaan di Penyidik Polres Lembata menyebut Dion Wadu, anak sulung almarhum terlibat da­lam kasus pembunuhan berencana tersebut. Dion Wa­du pun ditangkap dan di­tahan. Sementara itu, Marsel Welan saat pemeriksaan di penyidik Polres Lembata, menyebut dua nama yang ter­libat dalam kasus pembu­nuhan Lorens Wadu yakni To­lis Ruing (anggota DPRD Lembata periode 2009-2014), Bence Ruing (PNS pa­da Dinas Sosial dan Naker­trans Kabupaten Lembata). Atas keterangan Marsel We­lan ini, polisi akhirnya me­nangkap Tolis Ruing di ke­diamannya dan Bence Ruing ditangkap saat ia bersama is­tri dalam perjalanan dari Hadakewa menuju Lewo­leba.

Tidak hanya itu, dalam persidangan di PN Lembata, Marsel “bernyanyi” lagi dan menyebut beberapa nama yang terlibat dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu yakni Heryansah (anggota Polres Lembata), Vinsen Da­sion, Inzo Gowing (PNS pa­da Badan Kesbangpol) dan Omy Wuwur, sopir Bupati Elia­ser Yentji Sunur dan anak bungsu almarhum, Evan Wadu. Berdasarkan ki­cauan Marsel Welan di PN Lembata, penyidik menang­kap dan menahan lima orang tersebut.

Menariknya, setelah me­nangkap dan menahan para tersangka dan sekian bulan mendekam di ruang tahanan Polres Lembata, orang-orang yang disebut Vinsen Wadu dan Marsel Welan justru dilepaskan kembali oleh polisi. Hal ini membingungkan pu­blik Lembata. Ya, sekalipun Dion Wadu, Tolis Ruing dan Bence Ruing sudah melakukan re­konstruksi di tempat kejadi­an perkara. Saat rekonstruk­si di kebun korban, Dion Wa­du ditemani istrinya, Save­riana Ndua Nita Parera alias Ape Wadu, namun yang ditetapkan tersangka hanya Dion Wadu, istrinya tidak.

Kasus kematian Lorens Wa­du sudah dua tahun dan masih banya menyimpan kejanggalan dan misteri yang harus dibuka dan di­jawab oleh Penyidik Polres Lembata dan Penyidik Polda NTT.

Objektif atau Tidak

Anggota DPRD Lembata Petrus Bala Wukak kepada Flores Pos, Sabtu (6/6) me­nga­takan, banyak kejanggal­an yang kita temukan dalam penanganan kasus Lorens Wadu. Mantan Ketua Alian­si Keadilan dan Kebenaran anti Kekerasan (Aldiras) ini mengatakan, sudah dua ta­hun kasus kematian Lorens Wadu, publik masih diba­yangi apakah proses hukum kasus Lorens Wadu ini masih objektif atau tidak.

Piter mengatakan, semua orang tahu, Marsel Welan da­lam memberikan keterang­an selalu berubah-ubah karena dipaksa oleh polisi. Proses pe­nanganan kasus ini meng­abaikan prinsip-prinsip hu­kum dan hak asasi manusia. Misalnya, Marsel Welan, Vinsen Wadu, Nani Ruing dan Arifin Maran dipukul dan disiksa. Bahkan saat me­reka diperiksa tidak didampingi oleh penasihat hu­kum. Sementara lima orang yang ditetapkan tersangka atas “nyanyian” Marsel We­lan di persidangan ditang­kap dan ditahan namun dile­paskan kembali tanpa alas­an yang jelas dan kuat. Namun me­narik bahwa lima tersangka ini sampai sekarang tidak mengajukan praperadilan terhadap Polres Lembata.

“Mengapa polisi yang sudah menetapkan para tersangka lalu lepas begitu saja dan mengapa para tersangka ti­dak mengajukan praperadil­an terhadap Polres Lembata. Kalau Tolis Cs tidak terlibat seharusnya mereka melakukan praperadilan,” katanya.

Kapolda Sebut Tolis Ruing dan Bence Ruing

Piter Bala Wukak me­nga­takan, tinggal sehari lagi, kasus kematian almarhum Lorens Wadu genap dua ta­hun, publik dikejutkan de­ngan surat Kapolda NTT ke Komnas HAM yang mene­rangkan bahwa tersangka kasus pembunuhan Lorens Wadu adalah Tolis Ruing dan Bence Ruing. Bagi Piter Wu­kak, surat Polda ke Komnas HAM ini aneh, penyidik ti­dak menangkap Tolis Ruing dan Bence Ruing tapi justru menyurati Komnas HAM. Piter  Wukak melihat bahwa hal ini menunjukkan keti­dak­solidan penegak hukum, Penyidik Polda NTT dan Pol­res Lembata.

“Saya tiba pada suatu kesimpulan bah­wa dari penyelidikan awal, mereka sudah tahu pelaku­nya tetapi karena diduga ada konspirasi tingkat elite, maka mereka semua dilepas,” ujarnya.

Piter Wukak mengata­kan, semua penyidik yang me­meriksa kasus ini termasuk mantan Kasat Reskrim Pol­res Lembata Jery Samson Pu­ling harus diperiksa. Piter juga mengatakan, Kapolres Lembata AKBP Wresni Sat­ya Nugroho secara moral ha­rus bertanggung jawab dan mengundurkan diri.

Senada dengan Piter Wu­kak, Anggota Dewan Serva­sius Suban mengatakan, alangkah elegannya bila Ka­polres Lembata Wresni Nu­groho mengundurkan diri. Berulangkali masyarakat mendesak petinggi kepolisian untuk mencopot Kapolres Lembata AKBP Wresni Satya Nugroho dari jabatannya.

“Ma­sya­rakat sudah tidak perca­ya lagi kepada Kapolres. Karena itu, alangkah elegan­nya Kapolres mengundurkan diri daripada rakyat mendesak terus untuk diberhentikan atau dicopot dari jabatan­nya,” katanya.

Banyak Misteri

Secara terpisah, Pater Vande Raring SVD, Jumat (5/6) mengatakan, kasus ke­matian Lorens Wadu mas­ih menyimpan banyak mis­teri atau teka-teki yang sampai sekarang belum bisa dibuka atau dijawab.

“Masih ba­nyak hal yang menjadi te­ka-teki yang perlu diusut tun­tas oleh polisi,” katanya.

Pater Vande mencontoh­kan, baju almarhum yang ditemukan 30 meter dari pondok almarhum atau tem­pat kejadian perkara.

Berna­dus Sesa Manuk dari Forum Penyelamat Lewotana Lem­ba­ta mengatakan, selain ba­ju, juga soal percikan darah yang ada di motor korban dan pagar pintu masuk kebun atau pondok korban. Saat rekonstruk­si, posisi motor korban diparkir di depan pondok korban. Sementara korban dipukul dan disirami oleh air panas di bagian belakang pondok korban di mana jarak dengan motor sekitar 6 meter dan dengan pintu pagar kebun sekitar belasan meter.

Nadus Sesa Manuk me­ngatakan, kejanggalan lain bi­sa dilihat saat rekonstruk­si, di mana Arifin Maran de­ngan menggunakan kayu panjang sekitar satu meter le­bih memukul korban saat ke­luar dari kamar mandi yang letaknya di samping be­lakang pondok korban. Ka­lau kayu diayun dari atas ya itu tidak bisa karena mengenai seng kamar WC, begitu juga kalau memukul dengan meng­gunakan kayu dari sam­ping ya tidak bisa karena kondisi di TKP tidak me­mungkinkan.

Pertanyakan “Sim Card”   

Keluarga korban almar­hum Lorens Wadu sampai saat ini terus menanyakan soal kartu handphone (Hp) atau sim card milik almarhum yang diam­bil oleh Penyidik Polres Lem­bata. Sim card dan hasil print out komunikasi al­mar­hum melalui Hp tidak per­nah ditunjukkan dalam per­sidangan dan sampai seka­rang sim card milik almar­hum tidak jelas keber­ada­annya. Padahal sim card itu sangat penting untuk meng­ungkap kasus pembunuhan Lorens Wadu.

Pace Wadu, anak kan­dung korban mengatakan, keluarga dalam waktu dekat ini akan menyurati Kapolda NTT untuk menanyakan sim card milik almarhum. Sejak ayahnya ditemukan tak bernyawa di pondok kebun milik korban dan dibawa ke RSUD Lewo­leba, pada Minggu, 9 Juni 2013 lalu, Hp milik ayahnya di­ambil oleh Kasat Reskrim Polres Lembata Jery Samson Puling. Beliau mengambilnya dari tangan anak sulung korban, Dion Wadu.

Saat kematian ayahnya, kata Pace Wadu, keluarga ti­dak pernah tahu keberada­an atau kepastian dari kartu Hp ayahnya. Pada saat keluarga inti dari almarhum bertemu dengan Kapolres Lembata saat itu, AKBP Marthen Johannis, di ruang kerjanya, Senin, 8 Juli 2013, Kapolres Marthen menyampaikan bahwa Ka­sat Reskrim Jery Samson Pu­ling tidak bisa hadir da­lam pertemuan dengan ke­luarga inti almarhum karena sedang berada di Kupang membawa Hp almarhum untuk di-print out.

Namun pada saat sidang di PN Lembata untuk empat terdakwa, Vinsen Wadu, Marsel Welan, Arifin Maran dan Nani Ruing, tidak per­nah terdengar soal hasil print out atau diajukan ke persi­dangan terkait dengan hasil print out tersebut. Bahkan sampai saat ini, setelah 2 tahun ke­matian ayahnya, kartu Hp dan hasil print out tersebut tidak diketahui oleh ke­luarga.

Pace Wadu mengatakan, keluarga akan menyurati Kapolda NTT dan meminta kepastian soal sim card milik almarhum dan hasil print out tersebut. “Hasil print out dan sim card itu sangat penting untuk mengetahui dengan siapa ayah berbicara terakhir sebelum dibu­nuh,” ujarnya.*** (Flores Pos, Senin, 8 Juni 2015)

Baca juga:

Di Manakah Lorens Wadu Dibunuh?

Warga Lembata Gelar Seribu Lilin

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s