Indelebilis Imamat

  • Selipan dalam “Teologi Setelah Kasus Lela”

Oleh AVENT SAUR

Tersangka kasus Lela, Herman Jumat Masan divonis hukuman mati oleh Mahkamah Agung, Selasa, 11 Februari 2014.

Tersangka kasus Lela, Herman Jumat Masan divonis hukuman mati oleh Mahkamah Agung, Selasa, 11 Februari 2014.

Cerita tentang kasus Lela menyebar dengan cepat, bertolak dari kota sebagai pusat informasi lalu ke sudut-sudut kampung. Setidaknya, beberapa waktu lalu, saat kasus itu baru terungkap. Cerita itu diperoleh, kebanyakan, bukan lewat media massa, melainkan media lisan, ‘dari mulut ke mulut’ (buah bibir).

Mungkin karena melalui media lisan, maka cerita itu pun terdengar hanyalah kepingan-kepingan, tidak utuh. Kalau pun kisah itu diperoleh melalui media massa, tapi ketika itu diceritakan secara lisan kepada orang lain, lalu orang lain itu menceritakannya secara lisan lagi kepada orang lain lagi, maka yang diperoleh tetap berbentuk ‘kepingan’, dan tentu dengan improvisasi seadanya seturut daya tangkap, kemampuan menafsir dan kecakapan berkomentar.

Komentar Umat

Dari sekian banyak komentar, yang tentu berasal dari orang dengan latar belakang yang bervariasi, semuanya bisa dirangkum dalam tiga kalimat ini. “Ah, hal itu bisa terjadi?” “Kami sebagai umat merasa prihatin.” “Pastor, jangan buat sebarangan!”

Rasanya, memang agak menarik, tak satu pun komentar yang memberikan sinyal bahwa seseorang akan apatis secara radikal terhadap iman dan agama, atau sekurang-kurangnya terhadap imam, apalagi mualaf atau murtad, atau lebih lagi, secara total tinggalkan agama, atau bahkan lebih jauh lagi, menganggap hidup itu nihil, nirmakna. Boleh jadi, patut diduga bahwa komentar yang bernada demikian tak akan muncul ke permukaan (secara terang-terangan) karena mungkin diliputi rasa takut atau enggap kepada imam. Itu mungkin akan muncul dalam praktik hidup. Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

Teologi Setelah Kasus Lela

Oleh JUAN ORONG (Dosen STFK Ledalero, Maumere)

Juan orong

Juan orong

Tanggapan atas vonis hukuman mati terhadap Herman Jumat Masan (HJM) oleh Mahkamah Agung (MA), selain tentu berisikan desakan untuk meminta grasi dari presiden, tetapi juga barangkali yang paling aktual adalah diskusi mengenai posisi agama dan teologi dalam ruang kehidupan virtual manusia.Pertanyaan teologis teramat serius dalam hal ini adalah apakah setelah seorang terdakwa pastor dihukum mati, pembicaraan tentang Tuhan masih legitim? Apakah agama belum kehilangan gairah untuk menegaskan hakikat dirinya terhadap individu manusia (umat beragama) sebagai sumber pemahaman yang benar tentang moralitas, tentang ketenangan jiwa, tentang makna dan kerelaan menghadapi kehidupan,  tentang kebangkitan orang mati dan keselamatan jiwa? Pada ranah sosial, apakah agama masih relevan dipahami sebagai institusi yang menjamin persahabatan, keselarasan sosial, tanggung jawab, cita rasa kemanusiaan, dan batasan yang mengurangi atau meniadakan kriminalitas? Sebab kriminalitas dan atau kejahatan lainnya, termasuk pembunuhan yang diciptakan orang beragama, selain menodai agama yang dianutnya, juga mencederai hakikat keberadaan sang pelaku tindakan kejahatan itu.

Bisa saja sebelum vonis hukuman mati diberikan kepada HJM, fokus pikiran kita terarah kepada kejahatan, kekerasan, dan egoisme yang dimilikinya. Hal yang kita pikirkan tentang dia tidak lain mungkin adalah seputar kenaifan dari perbuatannya dan nihilisme yang terbangun pasca-pengadilannya.Jauh dari fakta bahwa dia tidak beriman kepada Tuhan, tindakannya yang menyebabkan kematian tiga orang berturut-turut, -yang barangkali jauh dari kesengajaan-, tentu dipenuhi kepastian dan antusiasme. Pada saat itu, dia tentu masih memiliki semua yang diperlukan untuk mengetahui kebenaran dan kebaikan. Dia tentu tidak sedang ditawan oleh radikalisme daya insting atau diperbudak oleh kebebasan penuh tanpa kontrol.Dia masih memiliki semua ketaatan akan dogma agama dan keyakinan kepada Tuhan. Dan dia adalah pengajar iman, pemuja kebenaran, pencinta keadilan, dan pelaksana harian cinta kasih Allah. Paling kurang sampai dengan saat-saat kematian masing-masing tiga orang itu, pengetahuan orang tentangnya tidak lain adalah empat hal tadi: pengajar iman, pemuja kebenaran, pencinta keadilan, dan pelaksana harian cinta kasih Allah. Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

Tersingkir Secara Sosial dan Religius (3)

Flores Pos, Sabtu, 15 Maret 2014

Kapela Kurumboro

KAPELA KURUMBORO – Inilah Kapela Lingkungan Kurumboro yang menjadi saksi bisu iman umat Kurumboro. Rumah-rumah umat tidak jauh (berjarak 15 meter) dari kapela ini. Kata-kata Yesus ini mungkin tepat bila dialamatkan kepada mereka: “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46). Gambar diambil, Minggu (16/2).

  • Lima Bulan Terpasung, Kaki Anselmus Wara Luka Borok

Oleh AVENT SAUR

Namun luput dari hukum sipil tidak berarti Anselmus samasekali tidak diberikan hukuman. Dan hukuman yang sedang dia jalani sekarang adalah hukuman yang berasal dari hukum tradisional, sekaligus sosial-budaya. Ia dipasung, dan kini sudah berjalan sekitar lima bulan.

Di kamar yang berukuran 3×3,5 meter itu, ada dua batang kayu berkelas (kuat); yang satu berukuran tiga meter, yang lain berukuran satu meter lebih. Kedua kayu itu terapit, dan di antara apitan itu terdapat lubang di mana kedua kaki pria, yang sudah ditinggalkan istrinya ini, terbujur kaku.

Ada juga empat besi beton yang ujung-ujungnya tertanam di lantai rumah itu, yang membuat kedua batang kayu tersebut tidak bergeser sedikit pun. Ada tiga baut cukup besar, 11 paku anti karat yang tertanam pada kedua kayu. Tangannya juga diborgol dengan rantai baja dan terdapat satu gembok yang menyambungi kedua ujung rantai itu.

Kedua kaki Anselmus tak banyak bergerak. Katanya, sewaktu dipasung, kakinya masih leluasa bergerak karena lubang itu lumayan besar. Namun setelah tiga bulan berada dalam pasungan, kakinya mulai kemerahan yang menandai adanya luka. Mengapa? Selain karena kaki selalu digerakkan sekalipun hanya dalam volume lubang itu saja, juga karena permukaan lubang itu tampak cukup kasar. Gesekan demi gesekan dahulu, kini mengakibatkan luka. Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

“Kadang Error, Kadang Waras” (2)

Flores Pos, Jumat, 14 Maret 2014

Rumah Anselmus

RUMAH ANSELMUS – Inilah rumah (kanan) di mana Anselmus Wara dan Ame Rafael Wanda menetap. Seturut cerita warga, Minggu (16/2), pintu rumah tertutup karena Ame Rafael sedang berada di kebun, sementara Anselmus tetap tenang di kamar pesakitannya.

  • Lima Bulan Terpasung, Kaki Anselmus Wara Luka Borok

Oleh AVENT SAUR

Mungkin orang akan mengira sok suci, kalau wajah Anselmus dengan mudah dianggap sebagai wajah Sang Guru Agung (Yesus) itu. Untaian kata ini pun sedikit menggema: “Barangsiapa menyambut seorang anak (kecil) seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku,” (Markus 9:37). Anselmus memang bukanlah seorang kanak-kanak, tapi ia adalah ‘orang kecil’: kebebasannya kecil, kepedulian yang didapatnya kecil, harapan hidupnya kecil dan kebahagiaannya kecil.

Lebih tepat lagi, kata-kata lain mengusik bahkan menggetarkan: “…Ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. …..Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku,” (Matius 25:42-45). Anselmus adalah orang kecil yang harus diterima, dan orang sakit yang perlu dilawat.

Seketika, mata saya tak tahan melotot. Rupanya, daya tangisan dan wajah mengharukan itu lebih kuat. Mata saya pejam sebentar, memeras air mata yang ingin mengalir. Mata dibuka lagi, lalu toleh ke ayah-Ame Rafael Wanda, tanpa mengucap sepatah kata pun. Namun Ame Rafael membalasnya dengan ucapan “Pastor, tolong anak saya….”. Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Dosa Pembunuhan? (1)

Flores Pos, Kamis, 13 Maret 2014

terpasung

TERPASUNG – Anselmus Wara (30 tahun) yang mengalami gangguan jiwa, terpasung setelah melakukan tindakan kriminal membunuh mosalaki Leonardus Langi (77 tahun) pada Senin (7/10/2013) lalu. Kedua kakinya mengalami luka borok, berbau busuk, berulat, juga pantatnya penuh luka, setelah lima bulan terpasung. Ia meneteskan air mata saat dikunjungi, Minggu (9/2) lalu.

  • Lima Bulan Terpasung, Kaki Anselmus Wara Luka Borok

Oleh AVENT SAUR

Sejak Mei 2013, saya menyusuri kampung-kampung di wilayah Paroki Roworeke, Ende. Tujuannya cuma satu, merayakan ekaristi di gereja pusat, kapela-kapela stasi dan lingkungan. Usai ekaristi, biasanya, saya diajak untuk bercerita sambil menikmati sajian makanan ringan atau juga santap siang bersama dengan pengurus komunitas umat basis (KUB), stasi atau lingkungan. Karena ini sudah menjadi kebiasaan, dan terasa sudah akrab dengan umat setempat, maka sekian sering saya secara ‘spontan’ menanyakan soal tempat berkumpul untuk bercerita-cerita.

“Bukan Cuma Boleh”

Pada Minggu, 9 Februari 2014, saya merayakan ekaristi dengan umat di lingkungan (kampung) Kurumboro (Desa Tiwu Tewa, Kecamatan Ende Timur). Oleh umat setempat, lingkungan ini disebut sebagai lingkungan istimewa, dan ia istimewa lantaran di sana terdapat sebuah kapela berukuran kecil. Kalau tidak ada kapela, maka sulit bagi mereka untuk menghadiri ekaristi di Kapela Stasi Detumbawa, yang notabene berjarak cukup jauh.

Ketika itu, hal yang ‘spontan’ tadi muncul. “Pa, kita duduk bercerita-cerita di mana?” tanya saya ingin tahu, kepada ketua lingkungan. “Di KUB saya, tuan. Di sebuah rumah yang berdekatan dengan rumah saya,” jawabnya spontan juga. Continue reading

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment