Orang Nazaret, Yesus, dan Kita

Nazaret

Kira-kira seperti ini wilayah kampung Nazaret sekarang.

Oleh Avent Saur, SVD

Bingung rasanya ketika mendalami karakter orang Nazaret. Awalnya, ketika Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah kegenapan nubuat nabi Yesaya, mereka “membenarkan” Yesus, dan “mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya”, tapi kemudian mereka malah memarahi Yesus bahkan mengusir, dan lebih lagi, ingin melemparkan Dia ke tebing luar kampung.

Cepat benar perubahan pikiran dan hati serta sikap orang Nazaret itu. Memang dalam kisah Injil Lukas 4:21-30 perihal “Yesus Ditolak di Nazaret” – yang kita dengar (dan baca) dalam Minggu Biasa IV, 31 Januari 2016 – terdapat perkataan yang mengandung kritik dan sindiran terhadap orang Nazaret, tapi setidaknya, kenyataan bahwa mereka “membenarkan dan mengagumi Yesus” mesti menggugah dan mendorong mereka untuk menjadikan kritik dan sindiran itu sebagai bahan refleksi; pergi ke dalam diri, kemudian mengubah diri untuk selanjutnya menjadi orang Israel yang baik. Tapi toh, tidak.

Menurut ekseget (ahli tafsir Kitab Suci) Stefan Leks, orang Nazaret mengalami kondisi karakter demikian lantaran yang mereka kagumi bukan perihal “isi” perkataan (khotbah) Yesus, melainkan “cara” Yesus berkhotbah. Bahwasanya, bagaimana mungkin orang sekampung yang dalam pelbagai hal kurang-lebih sama dengan mereka, dengan amat percaya diri bisa meyakinkan mereka bahwa diri-Nya adalah tokoh kegenapan nubuat nabi. Dalam kerangka berpikir mereka, Mesias yang dinanti-nantikan itu, tokoh yang diurapi Tuhan itu, adalah orang yang berasal dari keluarga di perkotaan dan istana serta keturunan bangsawan, atau kelas atas lainnya. “Bukankah Ia ini Anak Yusuf?” kata mereka. Cara Yesus berkhotbah itu benar dan mengagumkan, tapi isi khotbah Yesus itu adalah sebuah kebohongan meyakinkan yang mampu mengiring mereka untuk percaya begitu saja.

Orang Nazaret tidak ingin dibohongi. Dengan itu, mereka menguji Yesus dengan sebuah cara yang sangat rasional. Menurut Stefan Leks, pengujian itu kira-kira begini. (Saya kutib langsung) “Anda menyatakan diri sebagai orang yang diurapi Allah dan dibimbing oleh Roh-Nya. Anda memandang diri Anda sebagai Mesias. Bila Anda tetap bertahan pada klaim itu, maka harap membuktikannya di hadapan kami supaya kami dapat memberi kesaksian tentang Anda. Lakukanlah keajaiban seperti di Kapernaum. Kalau Anda tidak mampu melakukannya, maka Anda tidak berbeda dengan tabib yang tidak dapat membuktikan keampuhan ilmunya dengan menyembuhkan dirinya sendiri.”

Mempertegas pengujian – sekaligus kesangsian – itu, Yesus malah mengatakan dengan berani, “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku, Hai tabib sembuhkanlah dirimu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum. Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” Sungguh, situasi dalam sinagoga di kampung asal Yesus itu terasa cukup menegangkan.

Sebetulnya, orang Nazaret sudah tahu perihal penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan Yesus di Kapernaum. Tapi mereka juga tahu benar apa yang dimaksudkan dengan penyembuh sehingga mereka tidak begitu saja percaya. Ada pun dahulu, sekalipun dikagumi dan dicari banyak orang, penyembuh memiliki satu kekurangan yang amat fatal yakni tidak bisa menyembuhkan diri sendiri. Sebagai orang yang pernah melakukan mukjizat, Yesus dipandang sama seperti penyembuh-penyembuh lainnya.

Karena itu, Yesus diminta untuk menampilkan diri sebagai tokoh yang lebih dari sekadar penyembuh: “sembuhkanlah dirimu sendiri” (jangan berbohong, padahal Yesus berkata jujur dan benar), atau serupa kata-kata warga yang lewat di jalan dekat tempat penyaliban Yesus: “…Selamatkanlah diri-Mu! Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib” (Mat 27:40), atau juga olokan imam-imam kepala dan ahli taurat saat itu juga: “Orang lain Ia selamatkan, tapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan. Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya (Mat 27:41-42), atau yang lain lagi, seorang penjahat yang disalibkan bersama-Nya berkata: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami” (Luk 23:39); demikian juga pengalaman Yesus saat dicobai di padang gurun.

***

Apakah Yesus bisa menjawab pertanyaan, atau lebih tepat, kesangsian mereka akan kemesiasan Yesus yang diyakini oleh orang Israel sebagai penyelamat bangsa Israel? Entahlah. Patut diapresiasi bahwa orang Nazaret memiliki kerangka berpikir sekaligus kerangka beriman yang kritis, tapi apalah artinya iman bercampur keangkuhan, bukan iman yang rendah hati; iman yang akan kuat kalau ada hal-hal glamor (memikat mata semata-mata); iman yang dibangun di atas hal-hal ajaib, yang luar biasa, padahal sebetulnya iman itu juga ditunjukkan dengan rasa saling percaya di antara sesama manusia yang adalah gambaran dari rasa saling percaya antara kita yang mengimani dengan pribadi yang diimani.

Berlawanan dengan kerangka berpikir dan beriman orang Nazaret itu, kita mesti tahu bahwa pelbagai mukjizat apa saja yang dilakukan, dibicarakan dan dipikirkan Yesus, bukan terutama untuk menjawab “pencobaan, pengujian dan kesangsian” pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok yang ditemui-Nya, melainkan untuk mendatangkan keselamatan atas orang yang terbuka kepada-Nya dan membutuhkan-Nya. Tindakan mukjizat bukanlah demi popularitas, prestise dan unjuk diri atau kebolehan, serta tontonan mata, hiburan religius, dan bangunan citra diri, yang boleh jadi hal-hal ini sangat melekat pada karakter penyembuh biasa di Israel.

Yesus tahu bahwa sekalipun orang Nazaret mendengarkan-Nya dengan kepala mengangguk-angguk atau juga menggeleng-geleng, tapi mereka menolak-Nya – menolak dengan hati dan pikiran, lalu dengan tenaga (mengusir dan ingin melemparkan). Kecenderungan mereka kepada penolakan itu membuat mereka buta terhadap satu kenyataan yang paling pasti bahwa Yesus adalah Mesias yang lebih daripada seorang penyembuh, lebih daripada seorang nabi.

Oleh karena itu, dengan terus terang, Yesus berbicara tentang keselamatan yang inklusif (terbuka) dan universal (berlaku untuk semua manusia di bumi ini). Supaya langsung jelas dan gampang dipahami, Yesus mengangkat dua kisah dalam Kitab Taurat yang adalah kitab yang dipakai oleh orang Nazaret itu, antara lain terkait pertolongan Nabi Elia kepada seorang janda bukan Yahudi di Fenisia, Sarfat di tanah Sidon, dan bantuan Nabi Elisa terhadap seorang kusta (bukan Israel) bernama Naaman, panglima tentara Siria. Pertolongan itu adalah belaskasih Allah terhadap orang bukan Yahudi.

***

Agaknya akan begitu panjang refleksi atas kisah penolakan Yesus oleh orang sekampung-Nya ini. Tapi kita, sejauh ini, bagaimana iman kita?

Kita mungkin beruntung karena bukan bagian dari orang-orang Nazaret di Sinagoga itu; kita tidak tolak Yesus, tidak uji dan kritik Yesus. Tapi bukankah karakter orang Nazaret itu ada juga bahkan agak melengket pada karakter diri kita, entah kita berasal dari kampung mana dan entah kita tinggal di mana sekarang, serta entah apa jabatan dan keadaan ekonomi kita?

Karakter apa? Ya, tahu sendiri saja. Mungkin berupa kritik yang dibumbui kesombongan, egoisme yang membuat kita tidak memperhitungkan orang lain di sekitar; mungkin praktik iman yang selalu menuntut bukti-bukti kasat mata keterlibatan Tuhan; mungkin juga rasa marah entah mendadak kemudian berlalu begitu saja, entah juga kecewa yang berkepanjangan lantaran harapan dan permintaan yang tidak kunjung terkabulkan, dan seterusnya, dan lain-lainnya.

Keselamatan itu diperuntukkan bagi semua bangsa, bagi siapa saja yang berbuat baik – seturut Konsili Vatikan II – termasuk yang berbeda agama dengan kita. Yang kita pikirkan adalah bahwa sebagai orang yang beriman kepada Yesus, keselamatan itu tidak jauh dari kita; tidak seperti orang Nazaret yang justru menjauhkan diri dari keselamatan itu.

Kiranya petuah Santo Paulus berikut meneguhkan iman dan perbuatan kita: “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati. Ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1Kor 13:4 dan selanjutnya sampai ayat 7).*** (Kolom Mimbar Flores Pos, Sabtu, 30 Januari 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in RENUNGAN and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s