Derita Tiga Anak Nagekeo

Oleh Avent Saur

Tiga Anak

Ilustrasi

Keadaan menyedihkan terjadi akhir-akhir ini di Nagekeo. Perihal kematian Martinus Ordin Meze, bocah 4 tahun, itu yang pertama. Kedua, Plasidus Abrino Lana, balita 1 tahun, pasien gizi buruk. Dan yang ketiga, remaja putri Maria Goreti Wati, 16 tahun, penderita tumor pada perutnya.

Ordin yang diasuh oleh orangtua keluarga ibunya, meregang nyawa di RSUD Bajawa, 26 Januari 2016. Ibu kandung Ordin merantau ke Singapura. Dikabarkan, itu tersebab diare. Tapi karena keadaan tubuhnya agak menjanggal, maka diduga, itu kematian tak wajar. Misalnya, kakinya terkelupas seperti terkena air panas.

Kemudian baru diketahui, ya dipastikan, kematian itu tersebab “shock septik not overcum”, sebagaimana tertera dalam surat keterangan kematian dari RSUD Bajawa. Penyakit itu menyerang darah dan otak yang secara cepat menyebabkan kematian. Penyakit seganas itu bisa menyerang si kecil itu? Luar biasa. Kekurangan asupan gizi? Suasana tegang antara orangtua kandung dan orangtua asuh Ordin sempat mewarnai kepergian bocah asal Jawatiwa, Desa Rendubutowe, Kecamatan Aesesa Selatan itu.

Bocah berusia tiga tahun di bawah Ordin adalah Plasidus Abrino Lana, balita 1 tahun, pasien gizi buruk. Asalnya, Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa. Pada usia 3-4 bulan, anak ini cukup sehat, gemuk. Usia 5-8 bulan, kurang sehat, kurus. Keadaan ini bukan mendorong orangtua untuk membawanya ke panti kesehatan, malah ke dukun. Hingga dua pekan lalu, Kamis (3/3) kondisinya mengenaskan, dengan berat badan 3,2 Kg. Masalah ekonomi?

Di Puskesmas Danga, ia sedang dirawat entah hingga kapan. Saat itu, para medis ingin merujuknya ke RSUD dengan biaya pemerintah, termasuk memikirkan makan-minum orangtuanya.

Derita Abrino Lana belum tertangani tuntas, sehari setelahnya, muncul kabar runyam baru, Maria Goreti Wati, remaja 16 tahun menderita tumor pada perutnya. Tumor itu sudah terdiagnosa pada Januari 2015 lalu, ketika orangtua Goreti Wati mengantarnya ke Puskesmas Jawakisa, Aesesa Selatan. Ketika hendak dirujuk, saat itu, orangtuanya Goreti Wati beralasan: takut operasi dan kesulitan biaya.

Ketika kembali ke kampung Rendu Teno, Goreti Wati dirawat seadanya di kebun milik orangtuanya. Dukun kampung tentu bertindak. Sampai Jumat (11/3), keadaannya semakin memprihatinkan, ketika diantar oleh Babinsa Bere ke Puskesmas Danga. Diantar, bukan terutama karena semakin ganasnya tumor itu, melainkan lantaran dugaan perut Goreti Wati yang semakin membesar itu adalah sebuah kehamilan. Toh Goreti Wati, adalah anak di bawah umur. Sekali lagi, banyak penyebab, tapi kesulitan ekonomi, tentunya.

Kesulitan ekonomi adalah masalah dasar yang mendera keluarga anak-anak itu, dan itu mempengaruhi aspek kesehatan (salah satunya). Yang bertanggung jawab mengurai kesulitan ini tidaklah lain, pemerintah. Dan kita tahu bahwa pemerintah sudah terdesentralisasi sampai pada tingkat paling rendah “rukun tetangga”. Dengan itu, sebenarnya, kesulitan apa saja pada rakyat apalagi pada bocah-bocah dan remaja itu tidak sampai pada titik nadir baru diurai atau ditangani.

Patut diakui juga bahwa pemerintah tidak mengurus hal-hal privat yang sedetail itu. Sebagaimana dalam etika tanggung jawab sosialnya, pemerintah hanya sampai pada hal-hal umum, dan ini menuntut keterlibatan pribadi warga negara dalam pelayanan-pelayanan umum negara.

Namun betapa tidak, negara bukanlah sepostur tubuh yang kaku. Ia adalah lembaga yang peran sosialnya dijalankan oleh manusia sebagai pribadi. Pribadi-pribadi itulah yang mewujudkan selain tanggung jawab sosial negara, juga mewujudkan karakter sosial pribadi tersebut. Maka kita pun mengenal bahwa efektif atau tidak efektifnya peran negara sangat bergantung pada karakter pemimpinnya.

Berkaca pada persoalan tiga anak Nagekeo itu, karakter pemimpin pada pelbagai tingkatan pemerintahan mesti bersifat merakyat. Ia melihat rakyat, hidup bersama rakyat, dan mengalami masalah serta menguraikan masalah rakyat. Bukan tidak mungkin, bukan cuma tiga anak ini, melainkan juga ada banyak anak lainnya, mesti diuraikan dengan karakter pemimpin yang demikian.*** (Kolom Bentara di Flores Pos, Selasa, 15 Maret 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s